Sejarah Emas

SEKILAS TENTANG EMAS

Emas sebagai logam adalah sebuah elemen kimia yang memiliki simbol Au dan nomor atom 79. Sifat kimia dari emas adalah “inert”, artinya emas tidak mudah bereaksi dengan unsur kimia lain. Emas tetap akan berkilau walaupun sekian lama terkubur di dalam tanah atau di dasar lautan.

Logam emas mempunyai kegunaan dalam berbagai industri. Tapi penggunaan utamanya adalah sebagai perhiasan dan alat transaksi perdagangan atau mata uang, keduanya merupakan sarana lindung nilai. Emas telah digunakan sebagai mata uang sejak lebih dari 5.000 tahun yang lalu.

Emas merupakan logam yang mempunyai nilai yang sangat tinggi di semua kebudayaan di dunia, bahkan dalam bentuk mentahnya sekalipun. Di Indonesia terdapat salah satu tambang emas terbesar di dunia, yaitu yang berada di Tembaga Pura, Papua yang dikelola oleh PT. Freeport Indonesia.

DARI ALAT TUKAR KE MEDIA INVESTASI

Ketika pertama kali dikenal oleh manusia, Emas belum digunakan sebagai alat tukar. Mereka cenderung menjadikan Emas sebagai perlengkapan ritual kuno dan perhiasaan. Jadi, sejak kapan manusia menggunakan Emas sebagai alat untuk bertransaksi? Menurut sebuah informasi yang saya dapatkan, pada 1091 SM, di China Emas berbentuk kotak yang berukuran kecil sudah digunakan sebagai alat tukar yang sah.

Setelah Emas dikenal sebagai alat tukar untuk perdagangan internasional di Timur Tengah pada tahun 1500 SM, Mesir menjadi Negara terkaya di kawasan itu. Pasalnya, Mesir memlilki Nubia, sebuah daerah yang sangat kaya kandungan Emasnya. Standar unit di Timur Tengah pada waktu itu menggunakan koin Emas Shekel dengan berat 11,3 gram. Shekel terbuat dari campuran alami logam 2/3 Emas dan 1/3 perak yang biasa disebut elektrum.

Di Lydia (sekarang Turki), Emas resmi digunakan sebagai alat tukar pada 560 SM. Tepatnya sat Raja Croesus memerintah di sana. Di Eropa sendiri, baru pada 50 SM Emas dimanfaatkan untuk transaksi dalam bentuk koin. Ini terjadi di masa kerajaan Romawi, saat Julius Caesar berkuasa. Koin Emas itu disebut Aures.

 

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, umat Islam juga sudah mulai mengenal Emas sebagai mata uang. Uang tersebut dikenal dengan nama dinar, yang terbuat dari Emas 22 karat, seberat 4,25 gram, dengan diameter 23 milimeter. Standar ini kemudian dibakukan oleh World Islamic Trading Organization (WITO) dan berlaku hingga sekarang.

 

PERANG DUNIA

Pada awal Perang Dunia I, negara-negara yang berperang masih menggunakan standar Emas. Namun, perang telah menghabiskan biaya teramat banyak yang menyebabkan menipisnya persediaan Emas di negara-negara tersebut. Baru setelah Perang Dunia II, Emas digantikan oleh system mata uang konversi mengikuti Perjanjian Bretton Wood pada tahun 1944. 

 

Perjanjian Bretton Wood ini didukung oleh 44 negara. Ketentuan yang disepakati adalah setiap Negara harus mematok produksi uang kertasnya terhadap dollar Amerika Serikat (USD), yaitu USD 35 dijamin dengan satu ons Emas. Perjanjian ini berlangsung selama 27 tahun (1944-1971).

Pemicu berakhirnya perjanjian ini tak lain adalah Perang Vietnam, yang membuat Amerika Serikat menanggung kerugian besar sehingga mengalami kesulitan ekonomi. Mereka tak mampu lagi mempertahankan jaminan atas uang kertas dengan cadanga Emas yang mereka miliki.

Akhirnya, sejak saat itu, uang kertas tidak lagi dijamin dengan Emas. Akan tetapi, ditentukan oleh kepercayaan yang didukung ketersediaan cadangan devisa (Emas dan valuta asing) yang dimiliki bank sentral masing-masing negara, serta supply and demand yang ditentukan oleh kondisi fundamental ekonomi setiap Negara

EMAS itu Zero Inflation. Inflasinya NOL

Apa artinya? Artinya, kalau Anda pegang Emas, kemudian harga Emas turun, sesungguhnya Anda itu tidak pernah rugi. Kenapa?

Karena tidak pernah satu koin dinar Emas jadi tinggal sepotong kambing. Tapi, begitu harga Emas itu naik, jangan senang dulu. Karena, sesungguhnya, Anda itu tidak pernah untung. Kenapa?

Karena tidak pernah terjadi satu koin dinar Emas bisa digunakan untuk membeli lima sampai tujuh ekor kambing. Satu koin dinar Emas tetap hanya bisa untuk membeli satu ekor kambing saja. Itulah faktanya.

(image : pegadaian)

Jadi, pengertian Emas Zero Inflation adalah, kalau kita pegang Emas, saat harga Emas itu turun, sesungguhnya kita tidak rugi. Tapi kalau pun harga Emas naik, kita juga sebetulnya tidak pernah untung.

Terus, ada pertanyaan, “Ngapain, dong beli Emas?’ Mendingan pegang deposito, ada untungnya, tiap bulan dikasih bunga.” Jawabnya adalah untuk Untuk menutup penurunan nilai uang karena inflasi saja, bunga deposito sebenarnya tidak cukup.

Buktinya apa? Pada tahun 1970-an harga kambing sekitar Rp.7ribu. Cobalah uang Rp 7.000 itu tidak dibelikan kambing tetapi hanya didepositokan oleh orang tersebut. Bunganya tidak usah diambil. Sampai sekarang, uang Rp 7.000 itu tidak mungkin bisa mencapai Rp 2 jutaan dan tidak bisa dibelikan kambing dengab harga sekarang. Benar kan?

Oke, kalau begitu, kapan saat yang paling tepat untuk membeli Emas???

“Saat Yang Paling Tepat Untuk Membeli EMAS,
Adalah Saat Kita PUNYA Uang”

Bagaimanakah Tekniknya??

Untuk Metode Membeli Emas secara Efisien dan Efektif, akan kami bagikan untuk Anda esok hari via Email yang telah didaftarkan sebelumnya. Jadi, Pastikan cek inbox agar tidak ketinggaalan Ilmu yang sangat berharga ini.

 

Terima Kasih