Balada Subsidi BBM

Taukah bahwa negara yang menjual Bahan Bakar Minyak yang paling Murah di Dunia adalah Veneuzela..??

 
Dan apakah pernah mendengar tentang keadaan Venzuela belakangan ini..??

Baiklah, sebelum kita bahas tentang keadaannya sekarang, kita mundur dulu beberapa tahun ke belakang.

Pada kurun waktu 2013 – 2014, harga Bahan Bakar Minyak di venezuela merupakan yang TERMURAH di Dunia!

Di kisaran tahun tersebut, Bahan bakar minyak disana dijual seharga setara 300 rupiah/liter! Harganya bahkan lebih murah dari sebotol air mineral!

Sedangkan pada tahun yang sama di Indonesia, Bensin yang disubsidi (Premium) harganya mencapai kisaran Rp 6.000 – Rp 7.000 per liter (ini yang sudah disubsidi looh)

 
(https://finance.detik.com/energi/d-2876507/bbm-termurah-dunia-rp-260liter-dan-termahal-rp-25000liter-ini-daftar-negaranya)


Jadi harga bensin yang hanya 300 perak per liter di Venezuela merupakan sebuah harga yang sangat sangat sangat murah!

Kenapa bisa sangat MURAH?

karena, sebagai salah satu negara penghasil minyak yang juga anggota utama OPEC, Venezuela memberikan subsidi yang sangat besar untuk menekan harga jual BBM di dalam negeri.

Pada saat itu, harga jual minyak mentah sangat tinggi, mencapai lebih dari US$ 100/barrel. Sebagai salah satu produsen utama minyak mentah, Venezuela mendulang banyak keuntungan, dan penjualan minyak merupakan komponen penerimaan terbesar dalam anggaran negaranya

Dengan menekan harga jual bbm dalam negeri, yang dana subsidinya bersumber dari anggaran negara, direncakan berimbas pada turunnya harga-harga barang kebutuhan lain. Selain karena imbas harga bbm, beberapa jenis barang kebutuhan menjadi murah juga karena ikut disubsidi oleh negara.

Dengan keadaan yang serba murah dan banyak subsidi, diharapkan rakyat Venuzela bisa makmur, bahagia dan dapat mengalokasikan penghasilannya untuk pengembangan diri mereka.

itu harapannya!

Lalu bagaimana keadaan Venezuela sekarang?

Apakah benar rakyatnya sudah makmur dan bahagia setelah sekian lama barang-barang kebutuhan disubsidi oleh Pemerintahnya?

Baiklah sebelum kita lanjut, pastikan gambar/image  sudah tampil, karena saya akan menyertakan beberapa tampilan berita untuk memperkuat penjabaran.

Oia, supaya makin santai menikmati tulisan ini, siapkan juga kopi, teh atau minuman kesukaan lainnya beserta cemilan. Dan yang paling penting, jangan lupa minum air putih untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Sudah siap? Yuk kita lanjut.

—————————-

Venezuela zaman NOW!


Dulu serba disubsidi, bagaimana keadaan Venezuela kini..??

Semenjak menurunnya harga minyak dengan drastis sejak akhir 2014, Kondisi perekonomian Venezuela semakin mengkhawatirkan. Saat ini, negara tersebut kehabisan cadangan bahan pangan. Rumah sakit banyak dipenuhi oleh anak-anak yang sakit. Sementara, dokter tidak memiliki ketersediaan obat dan mesin X-ray. Bahkan listrik pun tidak tersedia.

Perekonomian Venezuela memburuk dan menuju kolaps. Krisis kemanusiaan pun terjadi, di mana banyak warga Venezuela yang sakit keras tidak bisa mendapatkan obat-obatan. Selain itu, terjadi bencana kelaparan. Kondisi ini diperburuk dengan terjadinya krisis politik di dalam negeri

 

 


 (https://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/01/062500526/venezuela-akan-jadi-negara-produsen-minyak-pertama-yang-gagal-total)

 

 

 
 

(https://www.liputan6.com/bisnis/read/3162433/terancam-bangkrut-sampp-nyatakan-venezuela-gagal-bayar-utang)

IRONIS, Venezuela merupakan suplier minyak terbesar dunia. Sehingga tak jarang hal ini dilihat sebagai mesin pencetak uang bagi Venezuela yang tidak ada habisnya. Tapi saat ini, pemerintah Venezuela kehabisan uang, harga barang-barang meroket, dan tidak ada yang tahu seberapa buruk lagi kondisi yang akan terjadi pada ekonomi Venezuela.

Ekonomi Venezuela pernah sangat maju karena industri minyak, yang menyumbang 95 persen terhadap ekspor negara itu. Namun, karena kurangnya investasi dan kurangnya pengembangan sumber pendapatan dari sektor lain, membuat sektor minyak semakin tidak menguntungkan dan tidak produktif. Tak hanya itu, anjloknya harga minyak secara dramatis sejak akhir tahun 2014 membuat ekonomi Venezuela kian menderita. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi inflasi Venezuela mencapai 720 persen pada tahun 2017!

Venezuela merupakan eksportir minyak yang secara kronis kekurangan uang tunai. Defisit anggaran Venezuela mencapai 12% dari produk domestik bruto

Menurut perhitungan International Energy Agency, subsidi energi di Venezuela memberatkan pemerintah dengan biaya hingga US$ 27 juta pada 2011. Jumlah tersebut setara dengan 8,6% produk domestik brutonya.

Badan informasi energi (Energy Information Administration / EIA) di AS menjelaskan dalam 13 tahun, penggunaan bensin Venezuela dan produk olahan minyak lainnya naik 65% .


Kondisi ekonomi yang terus memburuk ini juga berdampak terhadap merosotnya mata uang Veneuela, Bolivar. Inflasi Venezuela Meroket hingga 4.115 Persen, yang menyebabkan Mata Uang Bolivar Semakin Tidak Berharga!

Pada Akhir November 2017, Bolivar melorot ke posisi 84.000 per dollar AS. Setelah pada awal bulan tersebut satu dollar AS senilai 41.000 bolivar. Padahal seperti dikutip dari DolarToday, situs nilai tukar tidak resmi, awal tahun 2017, hanya butuh 3.100 bolivar untuk membeli 1 dollar AS.

Sangking lemahnya, Uang Bolivar tidak lagi bisa dengan mudah dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Begitu tidak berharganya sebagai mata uang, Bolivar yang telah kehilangan nilainya, malah dijadikan kerajinan tangan oleh rakyatnya untuk kemudian dijual dalam mata uang Dollar.

(https://dunia.tempo.co/read/1064676/krisis-venezuela-uang-bolivar-jadi-bahan-baku-kerajinan-tangan)



Apakah krisis keuangan di negara kaya minyak hanya menimpa Venezuela saja??

 
TIDAK!
 
Venezuela tidak sendirian, masih ada Arab Saudi yang juga mengalami krisis seiring anjloknya harga minyak dunia.
 

Walaupun tidak separah Venezuela, Arab Saudi kini harus mengencangkan anggaran belanjanya dan bahkan pada pertengahan tahun 2016 lalu mereka terpaksa harus berhutang ke Lembaga Keuangan Internasional senilai US$ 10 Miliar atau Rp 131,6 TRILIUN untuk menambal defisit APBN mereka.

 

(https://dunia.tempo.co/read/764415/setelah-25-tahun-arab-saudi-cari-utang-luar-negeri-rp-131-t)

 

Dengan harga minyak yang terus anjlok membuat anggaran Arab Saudi semakin tidak sehat. kondisi keuangan yang seperti ini, pada 2017 Arab Saudi menerbitkan surat hutang dalam bentuk Yuan (mata uang Republik Rakyat China)

 

 

(https://www.liputan6.com/bisnis/read/3070867/arab-saudi-terbitkan-surat-utang-dalam-bentuk-yuan)

 

Keadaan ini sungguh berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana harga bbm dalam negeri dijual dengan harga yang sangat murah, hanya 0,75 riyal per liternya. Harga ini masih lebih murah dibanding 1 kaleng minuman soda.

Selain harga bbm yang murah, di masa lalu rakyat Arab Saudi juga menikmati banyak subsidi di beragam barang konsumsi, sehingga mereka bisa dengan santainya membeli barang yang sebenarnya tergolong mewah.

 
TAPI, itu hari – hari yang lalu!
 
Sekarang pihak Kerajaan sudah mulai mengetatkan anggaran dengan mencabut beragam subsidi konsumsi. Bahkan bukan hanya mencabut subsidi, Pemerintahnya juga mulai mengenakan pajak bagi rakyatnya. Dikenakan pajak? Iya, sebuah kata yang dahulu mungkin terdengar aneh bagi rakyat disana.
 
 
Lagi – lagi Ironis, negara yang berkelimpahan minyak dimana rakyatnya sempat dimanjakan dengan berbagai subsidi, kini tengah di ambang kebangkrutan. Subsidi bensin dan subsidi di sektor lainnya, yang awalnya bertujuan untuk mensejahterakan rakyat justru terbalik keadannya..
Dengan kondisi keuangan yang semakin tertekan seperti ini, memaksa pihak Kerajaan Arab Saudi mulai memikirkan untuk mengembangkan sektor lain di luar minyak, dan salah satu sektor yang dipilih adalah Pariwisata.  TAPI, tentu saja tidak mudah mengembangkan sektor pariwisata di sebuah negeri konservatif ini. 
Berbagai kebijakan untuk mendukung sektor pariwisata pun dikeluarkan oleh pihak Penguasa Arab Saudi, walaupun ada beberapa yang menimbulkan gejolak di dalam negeri, seperti diperbolehkannya menggunakan bikini di pantai serta sedang dipertimbangkan untuk mengizinkan minuman beralkohol. 
https://www.thetimes.co.uk/article/saudi-arabia-beach-resort-will-allow-bikinis-crown-prince-mohammed-bin-salman-red-sea-project-sharia-king-salman-qzjkgr3kg
https://travel.detik.com/travel-news/d-3586816/arab-saudi-izinkan-wanita-pakai-bikini-di-pantai
https://dunia.tempo.co/read/896475/wisata-ke-laut-merah-saudi-akan-izinkan-minuman-beralkohol
 

GEJOLAK!

Di tengah upaya pihak Kerajaan Saudi mengembangkan sektor pariwisata untuk mulai mengurangi ketergantungan dari penjualan minyak, muncul perlawanan keras dari sebagian kalangan. Sebagian kalangan tersebut tidak setuju dengan kebijakan Kerajaan yang dinilai jauh melenceng dari nilai – nilai budaya & kepercayaan yang mereka yakini. 
Namun Pihak Kerajaan Saudi pun tidak tinggal diam, mereka tetap mau menjalankan rencana pengembangan sektor pariwisata agar negara tidak terus merugi di masa mendatang. Demi menjaga stabilitas di dalam negeri yang semakin memanas, Pihak Kerajaan mengambil jalan keras dengan menangkapi para pengkritiknya, bahkan termasuk dari kalangan Agamawan yang selama ini diberikan prioritas oleh Kerajaan.
http://www.nu.or.id/post/read/81272/dituduh-melawan-pemerintah-arab-saudi-gerebek-ulama-dan-akademisi
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/10/09/oxjne8396-dianggap-ekstremis-arab-saudi-pecat-ribuan-imam-masjid
https://internasional.kompas.com/read/2017/09/14/22115841/arab-saudi-tangkapi-imam-imam-yang-dianggap-membangkang
Dari hal ini kita tentu dapat mengambil pelajaran, bahwa subsidi untuk hal-hal konsumtif justru bisa membawa petaka. Ada kecenderungan dalam diri manusia, ketika harga suatu barang konsumsi disubsidi dan dirasakan murah, justru malah semakin boros!
 
Ratusan Milyar bahkan Triliunan terbuang percuma hanya untuk dihabiskan di sektor konsumsi ataupun habis menjadi asap oleh pembakaran bensin (subsidi bbm).
 
Bayangkan seandainya subsidi BBM ini dialokasikan untuk sektor-sektor produktif atapun pendidikan, tentu hasilnya justru akan meningkatkan pendapatan dan inovasi bangsa dalam jangka waktu panjang.
 
Kita ambil contoh simpel, ketimbang subsidi bbm rasanya lebih bermanfaat jika anggarannya untuk pembangunan waduk atau rumah sakit yang efeknya justru akan lebih dirasakan masyarakat luas dan tentu kebermanfatannya lebih jangka panjang…
 
Contoh lain di bidang pendidikan misalnya, anggaran Ratusan Milyar / Triliunan subsidi BBM tiap tahunnya, akan lebih bagus jika dipakai untuk biaya sekolah gratis, beasiswa kuliah ataupun perbaikan dan pembangunan gedung-gedung sekolah yang kondisinya masih minim.
 
Subsidi di sektor pendidikan, layaknya sebuah investasi yang sangat menguntungkan bagi negara ini, karena mereka-mereka yang mendapatkan bisa bersekolah dengan nyaman ataupun mendapat beasiswa, kelak akan memberikan sumbangsih yang sangat besar untuk kemajuan negeri.
 
 
Coba kita pikirkan sejenak, apakaj subsidi bbm benar-benar dinikmati oleh kalangan tidak mampu? Bisa, tapi seberapa banyak?
 
Kita ambil contoh saja, berapa banyak kalangan tidak mampu yang memiliki mobil? Dan manakah yang lebih banyak mengkonsumsi bbm, motor? Mobil?
 
Anggap saja dalam sehari motor menghabiskan 3 liter bensin, sedangkan mobil bisa menghabiskan 10 liter bensin untuk jarak tempuh yang sama.
 
 
Inikah keadilan? Inikah subsidi yang tepat sasaran..??
 
Telah lama negeri ini tersandera oleh subsidi BBM, yang sangat banyak menyedot anggaran belanja negara. Subsidi di sektor ini habis begitu saja menjadi asap dengan tidak banyak membawa keuntungan di masa depan.
 
Memang benar jika dibilang bahwa bbm murah pasti akan mengurangi harga kebutuhan pokok karena ongkos distribusi yang murah, TAPI akan lebih baik jika subsidi BBM dialihkan untuk memperbaiki infrastruktur transportasi dan distribusi.
 
Jika infrastruktur di sektor ini beres, kelak akan terjadi efisiensi pengangkutan barang, yang sudah tentu akan berdampak penurunan ongkos dimana unjungnya harga jual ke konsumen akan semakin murah.
 
Beruntung beberapa tahun belakangan subsidi bbm sudah dikurangi dalam jumlah drastis, dan kini setidaknya kita dapat melihat bahwa pembangunan infrastruktur sedang digencot dengan cepat, demi mengejar ketertinggalan
 
Kini kita dapat melihat, masyarakat mulai bisa mendapatkan akses kesehatan, dimana kini orang – orang sudah berani untuk berobat ke dokter. 
 
Bayangkan saja, dahulu orang yang sakit pasti berpikir beberapa kali sebelum ke dokter, mereka lebih memilih menyembuhkan dengan cara lain. Kenapa demikian? karena dulu akses ke dokter belum bisa dinikmati oleh banyak orang, salah satu alasannya karena biayanya mahal!
 

Saatnya mindset kita anak negeri ini mulai sadar untuk beralih, bukan lagi sekedar subisidi sektor konsumtif, melainkan subsidi produktif.

Salam

SAFRiansyah